Jumat, 04 Desember 2015

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian

Nama  : RIDHA TRIYANA DEWI
Npm    : 17213619
Kelas   : 3EA31
Softskill 

1.      KRITERIA EVALUASI
            Philip kotler mengemukakan, “Konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya. Informasi ini digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya”(1998:170).
            Menurut Sutisna, “Setidak-tidaknya ada dua kriteria evaluasi alternatif. Pertama adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk. Kedua, kepuasan yang diharapkan”(2001:22). Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternatif-alternatif pilihan. Kriteria alternatif dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya dalam membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan criteria, keselamatan, kenyamana, harga, merek, negara asal (country of origin) dan juga spek hedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya.
Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah :
1.      Harga-Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memilih harga yang murah untuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indikator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
2.      Nama merek-merek terbukti menjadi determinan penting dalam pembelian obat. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian.
3.      Negara asal, negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen. negara asal sering mencitrakan kualitas produk. Konsumen mungkin sudah tidak meraguakan lagi kualitas produk elektronik dari Jepan. Sementara, untuk jam tangan nampaknya jam tangan buatan Swiss meruapak produk yang handal tak teragukan.
4.      Saliensi (Atribut yang mencolok) Konsep saliensi mencerminkan ide bahwa kriteria evaluasi kerap berbeda pengaruhnya untuk konsumen yang berbeda dan juga produk yang berbeda. Pada suatu produk mungkin seorang konsumen mempertimbangkan bahwa harga adalah hal yang penting, tetapi tidak untuk produk yang lain. Atribut yang mencolok (salient) yang benar-benar mempengaruhi proses evaluasi disebut sebagai atribut determinan.

2.      MENENTUKAN ALTERNATIF PILIHAN
            Konsumen memproses informasi dari beberapa informasi dan membuat pertimbangan untuk memuaskan kebutuhan, konsumen mencari manfaat produk dan memandang produk sebagai suatu rangkaian atribut, atribut yang menonjol dianggap penting Pemasar perlu menjelaskan manfaat produk dan menentukan atribut yang menonjol Keputusan Pembelian Konsumen membentuk satu maksud pembelian, ada 2 faktor :
1.      Sikap/ pendirian orang lain
2.      Situasi yang tidak diantisipasi.
            Sejumlah besar penelitian dan strategi pemasaran telah mengasumsikan pembuat keputusan konsumen rasional dengan yang terdefinisi dengan baik, preferensi stabil. Konsumen juga dianggap memiliki kemampuan cukup untuk menghitung pilihan mana yang akan memaksimalkan nilainya, dan akan memilih atas dasar ini.

  • Pilihan afektif

Pilihan afektif yang paling mungkin ketika motif yang mendasari consummatory daripada instrumental. Consummatory motif mendasari perilaku yang secara intrinsik bermanfaat untuk individu yang terlibat. Motif Instrumental mengaktifkan perilaku yang dirancang untuk mencapai tujuan kedua.memvisualisasikan bagaimana manfaat yang dirasakan selama dan setelah pengalaman konsumsi. Hal ini sangat penting bagi merek baru atau produk dan jasa. Konsumen yang telah memiliki pengalaman dengan sebuah produk atau merek memiliki dasar untuk membayangkan respon afektif  yang dihasilkan.

  • Atribut berbasis versus atribut proses pilihan

Dua proses pertimbangan yang mungkin digunakan untuk membeli kamera digital:

Proses 1: Setelah konsultasi Internet untuk menentukan fitur apa yang paling disukai,  konsumen kemudian pergi ke toko elektronik lokal dan membandingkan berbagai merek fitur yang paling penting baginya yaitu, otomatis, kamera ukuran, fitur zoom, dan ukuran penyimpanan. Dia melihat keynggulan masing-masing model atas atribut dan kesan umum nya model kualitas masing-masing. Atas dasar evaluasi ini, ia memilih SportZoom Olympus.

Proses  2: konsumen mengingat bahwa temannya Olympus SportZoom bekerja dengan baik dan tampak “baik”,orang tuanya memiliki Easyshare Kodak yang juga bekerja dengan baik tapi agak besar dan berat, dan tua Fujifilm Finepix tidak diinginkan serta ia diharapkan . Di toko elektronik setempat ia melihat bahwa model dan Kodak Olympus memiliki harga yang sama dan memutuskan untuk membeli SportZoom Olympus.

Contoh pertama di atas adalah pilihan berbasis atribut. Contoh yang kedua sikap-berbasis-pilihan berdasarkan pilihan sikap. Secara umum, pentingnya membuat keputusan yang optimal meningkat dengan nilai barang yang sedang dipertimbangkan dan konsekuensi dari keputusan yang tidak optimal. Semakin mudah untuk mengakses atribut informasi lengkap suatu merek, pengolahan berdasarkan atribut,lebih kemungkinan akan digunakan.

3.      MENAKSIR ALTERNATIF PILIHAN
            Dalam penentuan Menaksir Alternatif  Pilihan, ada kalanya harus melihat terlebih dahulu penetuan dalam  Menentukan Alternatif Pilihan suatu produk. Kriteria yang telah di tentukan dalam menentukan alternatif pilihan produk seperti : Pilihan Efektif dan atribut berbasis versus atribut proses pilihan. Kemudian akan memunculkan beberapa alternatif produk,  alternatif  inilah yang digunakan konsumen dalam Menaksir alternatif pilihan. Dalam menaksir suatu alternatif dari pilihan yang ada maka konsumen harus memikirkan resiko yang akan diterima apabila konsumen memilih alternatif tersebut, dan meninggalkan alternatif  lain yang ada.

Ada tiga sudut pandang dalam menganalisis/menaksir alternatif  pilihan keputusan konsumen :
a. Sudut Pandang Ekonomis
            Konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional, yang mengetahui semua alternatif produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternatif yang ditentukan dipertimbangkan dari kegunaan dan kerugiannya serta harus dapat mengidentifikasikan satu alternatif yang terbaik, disebut economic man.
            Setiap konsumen memiliki keterbatasan dalam segi ekonomi, tidak semua konsumen memiliki ekonomi yang lebih, untuk itu konsuemn sendiri harus jeli dalam menyikapi setiap harga dalam pembelian suatu produk.

b. Sudut Pandang Kognitif
            Konsumen sebagai kognitif man atau sebagai problem solver. Kosumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk. Cognitive man berdiri di antara economic man dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon terhadap informasi yang berlebihan dan seringkali mengambil jalan pintas, untuk memenuhi pengambilan keputusannya pada keputusan yang memuaskan.
            Dalam memecahkan suatu maslah dalam pembelian, konsumen selalu mengumpulkan berbagai informasi dari setiap jenis harga dengan produk  yang sama, tidak semua produsen menawarkan barang dengan harga yang sama, untuk itu konsumen selalu mencari produk dengan harga yang lebih murah.

c. Sudut Pandang Emosianal
            Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritisme buktinya seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkan emosi. Anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.
            Dari sudut pandang emosiaonal, seseorang selalu berusaha untuk membeli produk yang di inginkan, berapapun harganya pasti produk tersebut akan di belinya. Semua yang menyangkut kepada keinginan, kepuasan terhadap suatu produk semua akan dilakukannya untuk dapat memiliki produk tersebut.

4.      MENYELEKSI ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
            Dalam mengambil keputusan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang paling utama adalah yang paling maksimal dakam memenuhi berbagai kriteria yang dapat di capai oleh produk.
            Tingkat tinggi satu atribut tidak dapat mengimbangi tingkat rendah yang lain. keputusan disjungtif aturan dan kata penghubung dapat menghasilkan seperangkat alternatif yang bisa diterima, sedangkan sisanya aturan umumnya menghasilkan satu “terbaik” alternatif.

  • Kata penghubung Aturan Keputusan

Aturan keputusan kata penghubung menetapkan standar kinerja minimum yang diperlukan untuk setiap kriteria evaluatif dan memilih yang pertama atau semua merek yang memenuhi atau melebihi standar minimum.
Karena individu memiliki keterbatasan kemampuan untuk memproses informasi, aturan kata penghubung yang sering digunakan untuk mengurangi ukuran tugas pengolahan informasi untuk beberapa tingkat dikelola

  •  Disjungtif Aturan Keputusan

Aturan keputusan disjungtif menetapkan tingkat minimum kinerja untuk setiap atribut yang penting (sering level yang cukup tinggi). Ketika aturan pengambilan keputusan disjungtif digunakan oleh target pasar, sangat penting untuk memenuhi atau melampaui konsumen persyaratan pada setidaknya salah satu kriteria kunci.

  • Eliminasi oleh aspek Aturan Keputusan

Untuk target pasar menggunakan eliminasi oleh aspek aturan, sangat penting untuk memenuhi atau melampaui  satu atau lebih persyaratan konsumen persyaratan (dalam urutan) dari kriteria yang digunakan dari kompetisi.

  •  Leksikografis Aturan Keputusan

Aturan pengambilan keputusan leksikografis mirip dengan eliminasi-oleh aspek aturan-. Perbedaannya adalah bahwa aturan leksikografis mencari kinerja maksimum pada setiap tahap, sedangkan eliminasi oleh aspek mencari kinerja yang memuaskan pada setiap tahap.

  • Kompensasi Aturan Keputusan

Aturan keputusan kompensasi menyatakan bahwa merek yang tingkatan tertinggi pada jumlah konsumen penilaian dari kriteria evaluatif yang relevan akan dipilih.memiliki tingkat kinerja pada atau di dekat kompetisi pada pentingnya fitur lebih karena mereka menerima lebih berat dalam keputusan daripada atribut lainnya.

Kesimpulan :

        Jadi kriteria evaluasi setidaknya mencangkup dua hal, yang pertama adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk. Kedua adalah kepuasan yang diharapkan. Sedangkan untuk kriteria evaluasi secara umum adalah harga, nama merek, Negara asal produk dibuat dan atribut pada produk tersebut.
          Untuk menentukan alternatif pilihan, konsumen memproses informasi dari beberapa informasi yang didapat kemudian membuat sebuah pertimbangan untuk memuaskan kebutuhannya. Dalam menaksir suatu alternatif dari pilihan yang ada maka konsumen harus memikirkan resiko yang akan diterima apabila konsumen memilih alternatif tersebut, dan meninggalkan alternatif  lain yang ada. Menyeleksi dalam mengambil keputusan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang paling utama adalah yang paling maksimal dakam memenuhi berbagai kriteria yang dapat di capai oleh produk.
 


https://succkasuccki.wordpress.com/2015/01/05/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian/
http://windiseptiani94.blogspot.co.id/2015/10/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian.html

Jumat, 06 November 2015

Proses Pengambilan Keputusan Dalam Pembelian

Nama : RIDHA TRIYANA DEWI
Kelas  : 3EA31
Npm   : 17213619
Softskill Perilaku Konsumen


Proses Pengambilan Keputusan Dalam Pembelian

1. Pengertian Keputusan Pembeli
            Pengertian Keputusan Membeli Untuk mendapat gambaran mengenai keputusan membeli, berikut ini akan dikemukakan definisi mengenai keputusan membeli menurut para ahli. Menurut Kotler (2009) keputusan membeli yaitu: “beberapa tahapan yangdilakukan oleh konsumen sebelum melakukan keputusan pembelian suatu produk”.
            Pengambilan keputusan membeli adalah proses pengenalan masalah (problem recognition), pencarian informasi, evaluasi (penilaian) dan seleksi dari alternatif produk, seleksi saluran distribusi dan pelaksanaan keputusan terhadap produk yang akan digunakan atau dibeli oleh konsumen (Munandar, 2001).
            Menurut Setiadi (2010) perilaku membeli mengandung makna yakni kegiatan-kegiatan individu secara langsung terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa serta dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut. Keputusan konsumen untuk membeli suatu produk selalu melibatkan aktivitas secara fisik (berupa kegiatan langsung konsumen melalui tahapan-tahapan proses pengambilan keputusan pembelian) dan aktivitas secara mental (yakni saat konsumen menilai produk sesuai dengan kriteria tertentu yang ditetapkan oleh individu). 12 Keputusan pembelian yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan yang terorganisir.

2. Proses – proses Keputusan Pembeli
            Proses-proses dalam Keputusan Membeli Menurut pemahaman yang paling umum, sebuah keputusan adalah seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih. Berikut ini beberapa pendapat ahli mengenai proses pengambilan keputusan membeli yang dilakukan konsumen.
Menurut Kotler (2009) terdapat lima proses keputusan pembelian yang dilalui oleh setiap individu dalam melakukan pembelian, yaitu :
 a. Pengenalan kebutuhan Tahap awal keputusan membeli, konsumen mengenali adanya masalah kebutuhan akan produk yang akan dibeli. Konsumen merasa 13 adanya perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang di inginkan. Kebutuhan sangat dipicu oleh ransangan internal (kebutuhan) dan eksternal (pengaruh pengguna produk serupa sesuai kebutuhan).
 b. Pencarian informasi Tahap keputusan pembelian yang dapat meransang konsumen untuk mencari informasi lebih banyak. Konsumen mungkin hanya meningkatkan perhatian atau mungkin aktif mencari informasi.
 c. Evaluasi alternatif Proses yang dilakukan konsumen untuk menggunakan informasi yang didapat untuk mengevaluasi alternatif yang ada, proses memilih produk yang akan dibeli.
d. Keputusan pembelian Konsumen merencanakan untuk membeli sebuah produk dan kemudian membeli produk tertentu untuk pemenuhan kebutuhan.
e. Tingkah laku pasca pembelian Tindak lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau tidaknya konsumen pada produk yang digunakannya.

3.  Model – model pengambilan keputusan :
a.      Model Perilaku Pengambilan keputusan
Model Ekonomi yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum.
Model Manusia Administrasi Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan.
Model Manusia Mobicentrik Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan.
Model Manusia Organisasi Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan.
Model Pengusaha Baru Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif.
Model Sosial Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
b.      Model Preskriptif dan Deskriptif
Fisher mengemukakan bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan, yaitu:
Model Preskriptif Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan.
Model Deskriptif Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu.

4. Teknik-teknik Pengambilan Keputusan
a.      Teknik Kreatif
1        Brainstorming Berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan memberikan kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
2        Synectics Didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dimaksudkan untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok
b.      Teknik Partisipatif
Individu individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Teknik Modern
Teknik Delphi
Teknik Kelompok Nominal

5. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pemecahan
            Konsumen menggunakan pemecahan masalah yang terbatas ketika mereka melakukan sedikit usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sering dilakukan oleh konsumen ketika membeli suatu produk yang telah mereka gunakan sebelumnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi jangkauan pemecahan masalah :
1.Alternatif-alternatif dibedakan dengan cara yang relevan, misalnya pembelian rumah,
alternatif pemilihan adalah lingkungan rumah (bersih, tidak banjir, dekat kota atau
mudah transportasi), bahan baku, harga (cicilan rendah dan lama).
2.Tersedia waktu yang memadai untuk pertimbangan yang mendalam untuk membeli produk.
3.Terdapat tingkat keterlibatan (relevansi pribadi) yang tinggi yang menyertai
pembelian.

Terdapat 5 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
1.Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk
mencapai tujuan tertentu.
2.Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau
kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap
rangsangan tersebut.
3.Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri
seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
4.Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.Integrasi
merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang
untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak
membeli produk tersebut.
5.Pembelajaran (learning) merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah
membeli produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan
akan dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.

6. Struktur Keputusan Membeli
Struktur keputusan membeli penting,karena sesudah menetukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan produk tertentu, konsumen diharapkan untuk memunculkan keputusan untuk membeli. Ada tujuh struktur keputusan membeli yang mempengaruhi konsumen:
1. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat memutuskan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli produk X atau tujuan lain selain melakukan pembelian. Para pemasar harus memusatkan perhatian pada konsumen yang diharapkan memutuskan untuk untuk membeli produk X dari alternatif lain yang mereka pertimbangkan uangnya untuk membeli komputer atau keperluan lain (membeli kamera, pakaian, dan buku).
2. keputusan tentang jenis produk
Konsumen memutuskan untuk membeli produk X dengan bentuk tertentu (ukuran, mutu, corak,dan sebagainya). Perusahaan harus menggunakan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen (untuk memaksimumkan daya tarik merk produk X, misalnya mahasiswa tersebut menentukan karakteristik dari komputer yang diinginkan yaitu laptop, Pentium 120, kemampuan memproses cepat, fasilitas lengkap (baterai, CD drive, mouse).
3. keputusan tentang merek
Konsumen memutuskan merk yang akan diambil. Perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merk. Misalnya berdasarkan informasi yang dihimpun, mahasiswa tersebut memilih untuk mendapatkan komputer merk acer.
4. keputusan tentang penjualan
Konsumen memutuskan dimana akan membeli (toko serba ada, elektronik, toko khusus dan lain-lain, perusahaan ( termasuk pedagang besar, pengecer) Harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu. Misalnya mahasiswa tersebut mempunyai pilihan membeli di toko elektronik, toko khusus komputer atau agen tertentu. Disamping pertimbangan harga, ia mempertimbangkan pula layanan yang didapat baik pada waktu membeli layanan purna jual.
5. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli. Perusahaan harus mempertimbangkan banyaknya produk tersedia untuk konsumen sesuai keinginan konsumen yang berbeda-beda.
6. keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen memutuskan kapan harus membeli (kapan uang/kesempatan tersedia). Perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam penentuan waktu pembelian, yang juga mempengaruhi perusahaan dalam mengatur waktu produksi, pemesanan, periklanan dan sebagainya.
7. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen memutuskan mode pembelanjaan yang disukainya, perusahaan harus mengetahui hal ini yang akan mempengaruhi dalam penawaran pembayaran (discount untuk tunai, kemudahan kredit, bunga rendah, dan lain-lain).

Kesimpulan :
Jadi yang dimaksud dengan pengambilan keputusan dalam pembelian adalah sebuah proses pengenalan masalah, pencarian informasi, atau seleksi terhadap dua alternatif atau lebih dari sebuah produk. Proses dalam keputusan membeli menurut kotler ada lima, Pengenalan kebutuhan Tahap awal keputusan membeli, Pencarian informasi Tahap keputusan pembelian, Evaluasi alternative, Keputusan pembelian dan Tingkah laku pasca pembelian.

Model pengambilan keputusan dibagi atas dua model. Yang pertama model perilaku pengambilan keputusan dan yang ke dua model preskriptif dan deskriptif. Sedangkan untuk teknik-teknik pengambilan keputusan ada dua teknik, Teknik kreatif yaitu berusaha untuk mendapatkan kreatifitas maksimal dari kelompok dengan mendengarkan ide-ide dari aonggotanya, teknik partisipatif yaitu dengan melibatkan atau ikut berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Pada struktur keputusan untuk membeli itu sangat penting karena konsumen sudah menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan suatu produk tertentu dan diharapkan dapat memicu keputusan konsumen untuk membeli.


http://repository.uin-suska.ac.id/1118/3/BAB%20II.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23295/3/Chapter%20II.pdf

http://irmalasarirasyeid.blogspot.co.id/2014/10/proses-pengambilan-keputusan-oleh.html

Senin, 05 Oktober 2015

PERILAKU KONSUMEN

Tugas Softskill 

Nama : Ridha Triyana Dewi
Npm  : 17213619
Kelas : 3EA31

Pengertian Perilaku Konsumen 

Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang / organisasi dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. 

Konsumen dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator, influencer, buyer, payer atau user.

Perilaku konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing.
        
Peran yang dilakukan tersebut adalah:
(1) Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu;
(2) Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak;
(3) Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya;
(4) Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya;
(5) User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk. Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya dapat lebih berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi, psikologis, sosiologis dan antropologis.

Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.

Pengertian Perilaku konsumen menurut para ahli
a. Schiffman dan Kanuk
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk dan jasa, maupun ide yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya.
b. Engel, Blackwell dan Miniard
Perilaku konsumen ialah tindakan-tindakan produk jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi dan membuang suatu produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan tersebut.
c. Mowen
Perilaku konsumen merupakan aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi dan membuang barang atau jasa.
d. Loudon dan Bitta
Perilaku konsumen merupakan proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan, penggunaan dan mendapatkan barang atau jasa.
e. Hawkins, Best dan Coney
Perilaku konsumen merupakan studi tentang bagaimana individu, kelompok atau organisasi melakukan proses pemilihan, pengamanan, penggunaan dan penghentian produk, jasa, pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhannya terhadap konsumen dan masyarakat.
f. Lamb, Hair dan Mc.Daniel
Perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan penggunaan produk.

Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut:
(1) Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;
(2) Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung;
(3) Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.

Perilaku Konsumen secara umum dibagi menjadi 2 yaitu Perilaku Konsumen yang bersifat Rasional dan Irrasional.

Berikut ini beberapa ciri-ciri dari Perilaku Konsumen yang bersifat Rasional:
- Konsumen memilih barang berdasarkan kebutuhan
- Barang yang dipilih konsumen memberikan kegunaan optimal bagi konsumen
- Konsumen memilih barang yang mutunya terjamin
- Konsumen memilih barang yang harganya sesuai dengan kemampuan konsumen

Beberapa ciri-ciri Perilaku Konsumen yang bersifat Irrasional:
- Konsumen sangat cepat tertarik dengan iklan dan promosi di media cetak maupun  elektronik
- Konsumen memiliki barang-barang bermerk atau branded yang sudah dikenal luas
- Konsumen memilih barang bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan gengsi atau prestise

Pendekatan Perilaku Konsumen, diantaranya ada 2 (dua) macam, yaitu:

Perilaku kardinal yaitu merupakan kepuasan individu atau seorang konsumen diukur dengan satuan kepuasan. Setiap menambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu. Semakin banyak atau semakin besar jumlah barang yang dapat dikonsumsi maka semakin tinggi pula tingkat kepuasannya. Konsumen ini akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya pada tingkat pendapatan yang dia dimiliki. Besarnya nilai kepuasan akan sangat bergantung pada konsumen yang bersangkutan. Konsumen ini dapat mencapai mencapai kepuasan yang maksimum jika dalam membelanjakan pendapatannya mencapai kepuasan yang sama pada berbagai barang.

Perilaku ordinal yaitu, dalam pendekatan ini daya guna suatu produk atau jasa tidak  perlu diukur, cukup untuk diketahui saja dan konsumen mampu membuat urutan tinggi – rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok produk atau jasa.

SIFAT DARI PERILAKU KONSUMEN
1.      Perilaku Konsumen Dinamis
Perilaku konsumen dikatakan dinamis karena proses berpikir, merasakan, dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan. Sifat yang dinamis demikian menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat menantang sekaligus sulit. Suatu strategi dapat berhasil pada suatu saat dan tempat tertentu tapi gagal pada saat dan tempat lain. Karena itu suatu perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi-inovasi secara berkala untuk meraih
konsumennya.
2.      Interaksi Perilaku Konsumen
Dalam perilaku konsumen terdapat interaksi antara pemikiran, perasaan, dan tindakan manusia, serta lingkungan. Semakin dalam suatu perusahaan memahami bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi konsumen semakin baik perusahaan tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen serta memberikan value atau nilai bagi konsumen.
3.      Perilaku Konsumen Pertukaran
Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain seseorang memberikan sesuatu untuk orang lain dan menerima sesuatu sebagai gantinya.


Kesimpulannya

            Jadi yang dimaksud dengan perilaku konsumen adalah suatu proses atau tindakan seseorang secara langsung dalam mencari, menggunakan, mengevaluasi dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Beberapa teori perilaku konsumen : Teori Ekonomi Mikro yaitu teori yang beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal, Teori Psikologis yaitu teori yang mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan, dan Teori Antropologis yaitu teori yang menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.
            Perilaku konsumen secara umum dapt dibagi menjadi dua, yaitu yang bersifat rasional dan irrasional. Sedangkan untuk pendekatan perilaku konsumen di antaranya ada dua macam yaitu Perilaku Kardinal yang merupakan kepuasan individu atau seorang konsumen diukur dengan satuan kepuasan, dan Perilaku Ordinal yaitu pendekatan yang daya guna suatu produk atau jasa tidak  perlu diukur, cukup diketahui saja dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok produk atau jasa. Adapun sifat dari perilaku konsumen yaitu Perilaku Konsumen Dinamis, Interaksi Perilaku Konsumen dan Perilaku Konsumen Pertukaran.
 

Sumber :





Jumat, 19 Juni 2015

Penelitian Kasus Pencurian

Nama         : Ridha Triyana Dewi
Npm           : 17213619
Kelas          : 2EA31

PENELITIAN KASUS PENCURIAN



Disusun oleh :

Agnellita Febriandini   (10213327)           Diana Putri                  (12213396)
Ahmad baisori             (10213403)           Dita Adilah                  (12213601)
Andry Bayu Prakoso   (10213968)           Pandini Wulandari       (16213808)
Dian Setiawan N         (12213388)           Ridha Triyana Dewi     (17213619)

KELAS                    : 2EA31
MATKUL                : Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen                      : Muhammad Ali, S.H.I.,Mag



Universitas Gunadarma
2015


KATA PENGANTAR

        Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas bimbingan dan petunjuk serta kemudahan yang di berikan oleh-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah penelitian berjudul KASUS PENCURIAN DI RT 03 RW 06 BOJONG RAWALUMBU dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan yang berati. Penyusunan makalah ini sebagai wujud patuh terhadap dosen yang memberikan tugas pada kami dan rasa puas kami akan rasa terima kasih telah di bimbingnya kami dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
      Pembuatan  makalah berjudul KASUS PENCURIAN DI RT 03 RW 06 BOJONG RAWALUMBU di iringi dengan harapan makalah ini mendapat tanggapan baik dan mendapat nilai yang baik pula. Dan harapan kami juga bahwa makalah ini dapat menambah khazanah perbendaharaan pelajaran dalam proses perkuliahan di Universitas Gunadarma.
      Penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada kedua orang tua kami yang sangat kami banggakan. Dan juga kepada Dosen yang telah membimbing kami dalam pengerjaan makalah ini. Kesempatan yang di yakinkan kepada kami membuat kami harus membayar keyakinan itu dengan makalah ini. Dan tak lupa juga untuk semua pihak yang turut ambil bagian dalam penyusunan makalah ini.
      Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi para pendidik dan peserta didik di mana pun berada.  Begitu juga dengan penilaian akan makalah ini, kami mengharapkan bisa mendapat penilaian yang maksimal sesuai dengan isi dan proses pembuatannya. Kami sangat mengharapkan saran dari semua pihak untuk kemajuan makalah ini pada waktu periode mendatang. 

Bekasi, April 2015           
                       
                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Tim Penulis





DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................. ii
Daftar Isi............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah........................................................................ 2
1.3  Tujuan dan Manfaat Penulisan..................................................... 2
1.4  Metode Penelitian......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi.......................................................................................... 4
2.2 Unsur Pencurian Sesuai Dengan Pasal 362 KUHP........................ 4
2.3 Faktor yang mempengaruhi pencurian.......................................... 6
2.4 Ruang Lingkup.............................................................................. 7
2.5 Deskripsi Lokasi............................................................................ 7
2.6 Kandungan Makalah...................................................................... 8
2.7 Hasil Pengamatan.......................................................................... 8
2.8 Upaya Pencegahan Pencurian........................................................ 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 12




 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
            Pencurian adalah suatu tindakan yang termasuk dalam kategori kriminal dimana pelaku pencurian melakukan pengambilan barang milik orang lain tanpa izin atau tidak sah. Tentu saja tindakan pencurian ini merugikan salah satu pihak, yaitu pihak korban.
            Dewasa ini semakin banyak ditemukan pencurian yang terjadi di dalam lingkungan, dimana pelaku-pelaku pencurian tersebut menurut sumber dan data yang kami terima adalah tidak jauh dari kalangan dekat lingkungan itu sendiri. Tidak jarang pencurian di lakukan oleh orang-orang terdekat kita, Pencurian di dominasi oleh faktor ekonomi dan sulitnya mencari kerja. pencurian, orang tersebut harus terbukti Telah memenuhi semua unsur dari tindak pidana yang terdapat di dalam rumusan pasal 362 KUHP.Salah satu bentuk dari pencurian yang diatur dalam Bab XXII Buku II KUHP adalah pencurian dalam lingkup keluarga, mengenai hal ini diatur dalam Pasal 367 KUHP.

      Bunyi dari Pasal 367 KUHP adalah :
(1)   Jika pembuat atau pembantu salah satu kejahatan yang diterangkan dalam bab ini ada suami (isteri) orang yang kena kejahatan itu, yang tidak bercerai meja makan dan tempat tidur atau bercerai harta benda, maka pembuat atau pembantu itu tidak dapat dituntut hukuman.
(2)   Jika ia suaminya (isterinya) yang sudah diceraikan meja makan, tempat tidur atau harta benda, atau sanak atau keluarga orang itu karena kawin, baik dalam keturunan yang lurus, maupun keturunan yang menyimpang dalam derajat kedua, maka bagi ia sendiri hanya dapat dilakukan penuntutan, kalau ada pengaduan dari orang yang dikenakan kejahatan.
(3)   Jika menurut adat istiadat keturunan ibu, kekuasaan bapa dilakukan orang lain dari bapa kandung, maka ketentuan dari ayat kedua berlaku juga bagi orang itu.Dari ketentuan Pasal 367 KUHP tersebut dapat diketahui bahwa pencurian dalam keluarga merupakan delik aduan, artinya ada atau tidaknya tuntutan terhadap delik ini tergantung persetujuan dari yang dirugikan/ korban/orang yang ditentukan oleh undang-undang.

            Delik aduan seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 367 KUHP merupakan delik aduan relatif yakni delik yang adanya suatu pengaduan itu hnaya merupakan suatu syarat agar terhadap pelaku-pelakunya dapat dilakukan penuntutan.
        Adapun Kasus Pencurian yang telah kami dapatkan dari hasil penelitian kami Di Rt 06/03 Kec.Rawalumbu, Kel. Bojong Rawalumbu, Bekasi Timur adalah Telah beberapa kali terjadi kasus pencurian dalam waktu yang berdekatan di daerah tempat kami meneliti. Waktu kejadian pencurian tersebut terjadi pada dini hari, Pecurian di daerah tempat kami meniliti di dominasi dengan pencurian kendaraan bermotor dan motif pencuriannya menggunakan cairan kimia untuk menghancurkan kunci gembok.
      Menurut Narasumber permasalahan pencurian disebabkan oleh banyaknya pemberhentiaan kerja,pengangguran dan kurangnya pengamanan di daerah setempat. Maka keresahan kami ini kami ungkap dalam bentuk tulisan sehingga pembaca dapat mengerti dan menghindari agar tidak menjadi korban pencurian
.
1.2 Rumusan masalah
1.  Apa itu pencurian?
2. Bagaimana pencurian yang terjadi di RT/RW 03/06 ?
3.  Faktor-faktor apa yang menyebabkan pencurian terjadi ?
4. Apa upaya –upaya menanggulangi kasus pencurian ?

1.3   Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan Penulisan :
1. Untuk mengetahui apa yang menjadi faktor-faktor terjadinya pencurian
2. Untuk mengetahui kronologi pencurian di RT 2 dan 3
3. Untuk mengetahui cara menanggulangi kasus pencurian di RT 2 dan 3

Manfaat :
1.      Manfaat Teoritis
Karya tulis penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman khususnya, menambah pengetahuan tentang hukum yang di tegakkan mengenai pencurian.

2.      Manfaat Praktis
Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada aparat penegak hukum dan masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan, khususnya pencurian.

3.       Manfaat Lainnya
Untuk memberi informasi bagaimana mencegah pencurian yang bisa saja menimpa kita.

1.4  Metode Penelitian
            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan secara kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian eksplanatif, yaitu berusaha menjawab dan mencari tahu kaitan dan hubungan antara variabel-variabel yang ditentukan, yang memiliki pengaruh terhadap tindak kejahatan pencurian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode wawancara dan metode observasi.
            Salah satu metode pengumpulan data adalah dengan jalan wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.Cara inilah yang banyak dilakukan di Indonesia belakangan ini. Wawancara merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap survey. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan jalan bertanya langsung kepada responden. Data semacam itu merupakan tulang punggung suatu penelitian survey.
            Salah satu metode pengumpulan data juga dengan observasi, observasi sendiri adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.

                           
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI
            Dalam hukum kriminal, pencurian adalah pengambilan properti milik orang lain secara tidak sah tanpa seizin  pemilik. Kata ini juga digunakan sebagai sebutan informal untuk sejumlah kejahatan terhadap properti orang lain, seperti perampokan rumah, penggelapan, larseni, penjarahan, perampokan, pencurian toko, penipuan dan kadang pertukaran kriminal. Dalam yurisdiksi tertentu, pencurian dianggap sama dengan larseni sementara yang lain menyebutkan pencurian telah menggantikan larseni. Seseorang yang melakukan tindakan atau berkarir dalam pencurian disebut pencuri, dan tindakannya disebut mencuri.

            Pengertian umum mengenai pencurian adalah mengambil barang orang lain. Pada Pasal 362 KUHP dikatakan bahwa: “barang siapa mengambil sesuatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain, dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak, dihukum, karena pencurian dengan hukuman penjara selama - lamanya lima tahun atau denda sebanyak - banyaknya Rp 900,-”

2.2 UNSUR PENCURIAN SESUAI DALAM PASAL 362 KUHP

A. Objektif
1.      Mengambil
Unsur mengambil mengalami berbagai penafsiran sesuai dengan perkembangan masyarakat. Mengambil semula diartikan memindahkan barang dari tempat semula ke tempat lain. Ini berarti membawa barang dibawah kekuasaan yang nyata. Perbutan mengambil berarti perbuatan yang mengakibatkan barang dibawah kekuasaan yang melakukan atau yang mengakibatkan barang berada diluar kekuasaan pemiliknya. Tetapi hal ini tidak selalu demikian. Hingga tidak perlu disertai akibat dilepaskan dari kekuasaan pemiliknya.

2.      Barang
Pengertian barang juga mengalami perkembangan. Dari arti barang yang berjudul menjadi setiap barang yang menjadi bagian dari kekayaan. Semula barang ditafsirkan sebagai barang -barang yang berwujud dan dapat dipindahkan(barang bergerak). Tetapi kemudian ditafsirkan sebagai setiap bagian dari harta benda seseorang. Dengan demikian barang itu harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang mempunyai nilai didalam kehidupan ekonomi seseorang. Perubahan ini disebabkan dengan peristiwa pencurian aliran listrik,dimana aliran listrik termasuk pengertian barang yang dapat menjadi obyek pencurian.

3.      Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain
Barang harus seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. Barang tidak perlu kepunyaan orang lain seluruhnya, sedangkan sebagian dari barang saja dapat menjadi obyek pencurian, jadi sebagian lagi kepunyaan pelaku sendiri. Barang yang tidak ada pemiliknya tidak dapat menjadi obyek pencurian

B. Subjektif
1.      Dengan maksud
Istilah ini terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan dari pelaku untuk memiliki barang secara melawan hukum. Maksud untuk memiliki barang itu tidak perlu terlaksana, cukup apabila maksud itu ada. Meskipun barang itu belum dipergunakan, misalnya tertangkap dulu, karena kejahatan pencurian telah selesai terlaksana dengan selesainya perbuatan mengambil barang.

2.      Untuk memiliki
Memiliki bagi diri sendiri adalah setiap perbuatan penguasaan atas barang tersebut,melakukan tindakan atas barang itu seakan - akan pemiliknya. Maksud memiliki barang bagi diri sendiri itu terwujud dalam berbagai jenis perbuatan yaitu menjual, memakai. Memberikan kepada orang lain, menggadaikan, menukarkan, merubahnya, dan sebagainya. Atau setiap penggunaan atas barang yang dilakukan pelaku seakan - akan pemilik, sedangkan ia bukan pemilik.
  
3.      Secara melawan hukum
Perbuatan melawan memiliki yang dikehendaki tanpa hak atau kekuasaan sendiri dari pelaku. Pelaku harus sadar, bahwa barang yang diambilnya adalah milik orang lain.

2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENCURIAN
      Faktor – faktor terjadinya pencurian :

•         Faktor Ekonomi
Faktor ini yang paling sering disebut sebagai faktor penyebab timbulnya kejahatan pencurian. Faktor ini meliputi kondisi masyarakat yang berada di bawah kemiskinan ditambah lagi meningkatnya kebutuhan hidup menjelang perayaan hari besar yang seiring dengan meningkatnya harga kebutuhan hidup.

•         Dampak Urbanisasi
Dampak urbanisasi yaitu derasnya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota yang membuat persaingan hidup di kota semakit ketat sehingga berbagai upaya dilakukan demi bertahan hidup. Dapat dilihat bahwa perampokan-perampokan besar selalu terjadi di perkotaan bukan di daerah-daerah kecamatan atau kabupaten.

•         Pengaruh Teknologi
Pengaruh teknologi, di mana pertumbuhan teknologi yang begitu pesat serta munculnya berbagai produk elektronik canggih membuat banyak orang menginginkan segala sesuatu secara instant meskipun dengan cara yang tidak benar.

•         Penggangguran
Meningkatnya pengangguran sangat berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahterahan masyarakat. Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang rendah cenderung untuk tidak mempedulikan norma atau kaidah hukum yang berlaku. Oleh karena tidak memiliki pekerjaan yang tetep, maka pelaku pencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

•         Tingkat pendidikan rendah
Rendahnya tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi daya fikir seseorang untuk membuat keputusan dalam bertindak. Bila pendidikan rendah, maka orang akan melakukan kejahatan tanpa memikirkan akibat dari tindakannya tersebut.

•         Tidak memiliki penghasilan yang cukup
Hal ini berpengaruh besar karena apabila seseorang tidak memilki penghasilan yang cukup untuk keluarganya, maka ia akan menghalalkan segala cara untuk menghidupi keluarganya.

•         Penyakit
Contohnya adalah kleptomania yang suka mengambil barang milik orang lain walau ia tidak membutuhkannya, hanya sebatas rasa ingin memiliki saja.

2.4 RUANG LINGKUP
      Penelitian diadakan dengan ruang lingkup yang kecil yaitu tingkat RT/RW yaitu RT 3  Bojong Rawa Lumbu . Dengan ruang lingkup yang kecil diharapkan penelitian akan menjadi lebih mudah dan mendalam. Materi yang ingin adalah tentang pencurian yang meresahkan. Subjek yang diteliti adalah lingkungan serta warga.

2.5 DESKRIPSI LOKASI
Kami menetapakan lokasi yang menjadi pusat penelitian atau observasi berada di daerah teman kami tinggal yaitu di :
Ø  RT             : 3
Ø  RW            : 6
Ø  Bojong Rawalumbu
Ø  Kelurahan Bojong Rawalumbu
Ø  Kecamatan Rawalumbu
Ø  Kota Bekasi
Ø  Provinsi Jawa Barat

      Perkampungan Bojong rawalumbu merupakan sebuah perkampungan yang dihuni oleh ± 500 kepala keluarga yang mayoritas adalah  pendatang. Lokasi perkampungan dikelilingi oleh banyaknya pengangguran dan banyak akses yang bisa digunakan untuk mencapainya.

Deskripsi Lingkungan RW 6
PERUMAHAN

Kemang Pratama
Perumahan Bojong Rawalumbu
JALAN MENUJU PERKAMPUGAN

RT 3

Kawasan pabrik

JALAN RAYA NAROGONG                       
RT 1
RT 2
RT 4
RT 5
RT 6
PERKAMPUNGAN

2.6 KANDUNGAN MAKALAH (PENJELASAN KEJADIAN)
      Di RW 6, khususnya RT 3 sebelumnya kondisi keamanannya sangat baik dengan menyiagakan seorang penjaga yang berpatroli siang dan malam serta seorang penjaga lagi khusus berpatroli dimalam hari. Namun pada awal bulan Januari 2015 terjadi pencurian kendaraan bermotor roda dua  yang terjadi di RT 3. Kejadian berlangsung dini hari ketika sang pemilik motor beristirahat didalam rumah. Ketika pagi hari sang pemilik kendaraan menyadari bahwa kendaraannya telah hilang dan kunci gembok gerbang telah rusak, yang diduga dirusak menggunakan cairan kimia.
      2 minggu kemudian kejadian pencurian juga  kembali terjadi di RT 3 dimana waktu kejadiannya hampir serupa yaitu dini hari ketika keadaan perkampungan sepi. pencuri untuk menggasak 2 motor sekaligus. Kejadian baru diketahui setelah pemilik rumah melihat kondisi gerbang rumah terbuka dan kemudian mengecek seluruh isi rumah. Dan karna kejadian tersebut pemilik kehilangan 2 motor.

2.7 HASIL PENGAMATAN

Ø ANALISA
Banyaknya akses jalan raya maupun jalan setapak menuju lingkungan RT 3  membuat peluang para pencuri untuk melakukan aksinya menjadi lebih mudah. Pencuri juga menjadi mudah dalam mengamati kondisi dan situasi lingkungan RW 6 sebelum melakukan aksinya. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya pencurian di wilayah RW 6 khususnya RT 3.

Ø SOLUSI
Menurut kami di RW 6 tersebut khususnya RT 3 diperlukan pengawasan ekstra lagi dengan penambahan personil penjaga di setiap RT. Dan juga kondisi akses jalan harus di buat portal. Diperlukan juga pembatas seperti tembok yang mengelilingi guna membatasi pergerakan orang yang ingin berbuat jahat yang ingin masuk.      

2.8 UPAYA YANG BISA DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH PENCURIAN

1. Kendaraan
• Gunakan alarm pada kendaraan anda dan memasang kunci stang.
• Jika berpergian, parkirlah kendaraan anda ditempat yang resmi dan pastikan ada petugas yang mengawasi tempat itu, hindarilah parkir ditempat-tempat yang sepi.
• Jika anda parkir di pinggir jalan sebuah kompleks perumahan, ada baiknya anda menyapa warga setempat yang kebetulan sedang berada di sekitar situ. Ucapkan permisi sembari berbasi-basi sedikit. Tujuannya, agar orang itu tahu bahwa kendaraan itu milik anda, jadi jika kendaraan anda diutak-atik orang tak kenal, warga setempat langsung mengenalinya.
• Sebelum meninggalkan kendaraan di tempat parkir, pastikan semua pintu telah terkunci dan tidak ada barang-barang berharga di kendaraan tersebut.
• Jika parkir bukan di tempat resmi, hindari parkir berlama-lama. Hal ini karena keamanan di tempat parkir tak resmi, keamanannya kurang terjamin

2. Rumah
• Memasang alarm keamanan.
• Membayar petugas keamanan.
• Memasang timer yang dapat menyalakan dan mematikan lampu secara otomatis saat anda sedang tidak ada dirumah.
• Menaruh mobil di garasi dan terlihat dari luar saat anda tak berada di rumah dapat mengurangi resiko pencurian rumah hingga 4%.
• Memelihara anjing dan memasang kunci ganda berlapis di pagar rumah dapat mengurangi resiko pencurian rumah hingga 3%.
• Jika berpergian dalam waktu lama, pastikan anda memberitahu tetangga yang bisa dipercaya dan memintalah tetangga melongok rumah anda sesekali.
• Catat semua nomor penting misal nomor polisi atau pemadam kebakaran, lalu tempel di dekat boks telepon.

3. Keamanan di lingkungan
• Adanya ronda bergilir antar warga sekitar lingkungan.
• Membuat portal.
• Membuat peraturan jam keluar masuk bertamu.
• Memperketat pengamanan sekitar lingkungan dengan petugas yang mengelilingi.



BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kehidupan ekonomi di Indonesia yang semakin susah dimana susahnya mencari kerja, biaya kehidupan tinggi membuat orang terkadang mengambil keputusan untuk mencuri hanya demi kebutuhan pribadi. Hal ini sangat merugikan bagi korban dan bagi pencuri itu sendiri. Pencurian merupakan tindakan kriminal yang bisa dijerat oleh hukum dan bisa mendapat hukuman penjara. Walaupun begitu pencurian semakin marak saja akhir-akhir ini. Alangkah baiknya bagi kita untuk membenahi lingkungan rumah kita untuk mencegah pencurian seperti yang terjadi di RW 6 Bojong Rawa Lumbu. Karena pencurian pasti terjadi sebab ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan pencurian oleh pelaku. Pada intinya perbaikan ekonomi dimana bila makin banyak lapangan kerja maka orang pasti tidak mau mencuri. Kebutuhan hidup yang mudah dipenuhi akan membuat orang tidak akan pernah mau mencuri.

3.2 KRITIK

Pengamanan dan penjagaan baik lah dimulai dari diri sendiri tanpa menyerahkan 100% kepada para petugas keamanan yang ada merupakan tindakan yang sangat perlu dilakukan. Pemberian hukuman baik kurungan dan denda sudah benar, tetapi lebih baik bila ada pembinaan kepada para pelaku agar tidak mengulangi perbuatan mereka kembali karna mereka sudah memiliki keahlian dan keterampilan lain yang lebih baik dari pada mencuri.

3.3 SARAN

Pengumpulan data yang masih belum akurat dapat di perbaiki dalam penelitian selanjutnya. Penjelasan tentang pencurian secara mendalam serta wawancara langsung kepada para pelaku tindakan criminal pencurian bisa dilakukan di penelitian selanjutnya agar penilitian ini lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA

Ø  Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30176/4/chaper1.pdf
Ø  Id.wikipedia.org/wiki/pencurian
Ø  Balytra.com/2010/09/14/kejahatan-pencurian-meningkat/